Hotelier Indonesia Gastronomi adalah studi tentang makanan dan budaya, dengan fokus khusus pada masakan gourmet. Gastronomi modern memiliki akar dalam beberapa naskah Perancis yang diterbitkan dalam tahun 1800-an, tetapi gagasan yang berhubungan dengan makanan, ilmu pengetahuan, masyarakat, dan seni telah ada lebih lama lagi. Benar Gastronomi menuntut pengkajian multi-disiplin tentang seni memeriksa makanan itu sendiri beserta konteksnya, presentasi, kesegaran, dan sejarah makanan. Meskipun sering dikaitkan dengan gourmets (pencicip makanan) dan gluttony (pakar / ahli & penikmat makanan), gastronomi sebenarnya adalah disiplin ilmu tersendiri, meskipun beberapa gourmets (pencicip makanan) tentunya adalah gastronom (orang yang ahli mengolah & menilai masakan), seperti juga beberapa gluttony (pakar / ahli & penikmat makanan).

Prinsip gastronomi, makanan adalah ilmu pengetahuan, di samping sebuah bentuk seni. Gastronomi memahami bagaimana semua panca indra manusia berkontribusi terhadap pengalaman makan. Gastronom (orang yg ahli mengolah & menilai masakan) lebih memahami apa yang terjadi ketika seorang konsumen mengaku tidak menyukai atau menikmati menu makanan tertentu. Gastronomi juga mengkaji implikasi sosiologis makanan, bersama dengan mengintegrasikan disiplin ilmu sosial lainnya seperti antropologi, psikologi, dan filsafat. Peran makanan dalam seni rupa, seperti seni pertunjukan, seni lukis, dan patung juga diperiksa; sebagai bagian dari melihat lebih dekat pada peran makanan dalam masyarakat secara umum.

Pada dasarnya gastronom adalah pakar yang mempunyai keahlian tentang masakan yang mengolah, menilai dan membahas tentang makanan. Seorang gastronom (orang yang ahli mengolah & menilai masakan) melihat betapa segarnya makanan, bagaimana dipersiapkan, aneka rasa (bumbu / rempah) yang digunakan, bagaimana seni makanan disajikan, bagaimana warna yang terjadi dalam campuran hidangan makanan, dan apa pesan secara keseluruhan terhadap makanan yang dilihatnya. Namun, gastronom juga mempelajari lebih mendalam mengenai makanan itu sendiri, memeriksa pengaruh kontribusi budaya terhadap makanan tertentu, ilmu pengetahuan yang ada di balik makanan, dan sejarah yang melatar-belakangi makanan tersebut. Dalam nomenklatur lain gastronom disebut sebagai seorang ‘hakim’ yang baik yang memperhatikan, mencintai, menikmati dan menilai tentang sesuatu makanan.
Studi yang sangat ilmiah mengenai makanan disebut gastronomi molekuler, juga memainkan peran yang penting dalam kajian gastronomi. Misalnya, gastronom molekuler dapat menjelaskan interaksi fisik dan kimia yang terjadi dalam proses gorengan masakan; potensi yang menyebabkan hidangan yang digoreng lebih ringan dan kurang berminyak, karena mekanisme yang dipahaminya itu memungkinkan kendala yang tidak diinginkan bisa dihindari.
Contohnya, nasi goreng tidak hanya sekedar makanan bagi seorang gastronom, banyak kajian yang harus diketahui terhadap makanan nasi goreng itu. Gastronom ingin mengetahui apa jenis nasi yang digunakan (bibit padi, kualitas beras, asal usul beras, penyimpanan dimana, cara pencuciannya, cara memasaknya dll), profil sejarah dan rasa klasik nasi itu, minyak goreng yang digunakan, asal minyak goreng, jenis perasa yang digunakan (garam, kecap, bawang, daun-daunan dll), dan bumbu rempah-rempah yang dicampurkan ke dalamnya. Selain itu, penyajian keseluruhan dari nasi goreng diperiksa juga dengan meneliti bagaimana nasi goreng itu dibuat (suasana dapur, sirkulasi dapur, kebersihan dapur, perlengkapan memasak, alat memasak dengan tungku atau gas, temperatur panas saat di goreng, dll), bagaimana pengaruhnya terhadap rasa campuran makanan lain (seperti kerupuk, jenis daging, jenis telur, sambel dan minuman yang akan disajikan bersama nasi goreng) serta bagaimana seni presentasi nasi goreng disajikan di atas meja; di samping secara spesifik mengetahui apa kandungan gizi (protein & karbohidrat) dibaliknya dan profil rasa khas dari nasi goreng itu sendiri.

Gastronomi memberi informasi kepada dunia kuliner masakan - makanan, tapi tidak semua juru masak non - profesional (koki) dan juru masak profesional (chef) adalah seorang gastronom. Kebanyakan juru masak lebih memilih fokus hanya pada aspek kuliner gastronomi yakni memproduksi makanan yang berkualitas tinggi dengan rasa dan cita rasa yang bermutu enak; tetapi mereka tidak menggali implikasi ilmiah dan sejarah dari makanan yang mereka buat. Seorang juru masak yang mempelajari gastronomi sering bekerja dengan masakan fusion. Mereka berani menyajikan rasa kombinasi makanan yang dibuatnya dalam cara yang tidak lazim, yang dirancang untuk menantang konvensi (kebiasaan) untuk mendapat peluang baru. Juru masak ini juga tidak dapat menjelaskan dasar interaksi ilmiah di dapur, apalagi menguraikan asal usul sejarah makanan yang digunakan.

Note:

Dari Griya Gastronomi .

Sumber
Axact

Hotelier Indonesia

Hotelier Indonesia magazine covers hotel management companies and every major chain headquarters. We reaches hotel owners, senior management, operators, chef and other staff who influence, designers, architects, all buyers, suppliers for hospitality products or services more than any other hotel publication in the world..

Post A Comment:

0 comments: